Suatu sistem pendidikan dapat dikatakan bermutu, jika proses belajar-mengajar berlangsung secara menarik dan menantang sehingga peserta didik dapat belajar sebanyak mungkin melalui proses belajar yang berkelanjutan. Proses pendidikan yang bermutu akan membuahkan hasil pendidikan yang bermutu dan relevan dengan pembangunan. Untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu dan efisien perlu disusun dan dilaksanakan program-program pendidikan yang mampu membelajarkan peserta didik secara berkelanjutan, karena dengan kualitas pendidikan yang optimal, diharapkan akan dicapai keunggulan sumber daya manusia yang dapat menguasai pengetahuan, keterampilan dan keahlian sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang.
Untuk mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas diperlukan manajemen pendidikan yang dapat memobilisasi segala sumber daya pendidikan. Manajemen pendidikan itu terkait dengan manajemen peserta didik yang isinya merupakan pengelolaan dan juga pelaksanaannya. Fakta-fakta dilapangan ditemukan sistem pengelolaan anak didik masih menggunakan cara-cara konvensional dan lebih menekankan pengembangan kecerdasan dalam arti yang sempit dan kurang memberi perhatian kepada pengembangan bakat kreatif peserta didik. Padahal Kreativitas disamping bermanfaat untuk pengembangan diri anak didik juga merupakan kebutuhan akan perwujudan diri sebagai salah satu kebutuhan paling tinggi bagi manusia. Kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan, menilai dan meguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubahnya dan mengujinya lagi sampai pada akhirnya menyampaikan hasilnya. Dengan adanya kreativitas yang diimplementasiakan dalam sistem pembelajaran, peserta didik nantinya diharapkan dapat menemukan ide-ide yang berbeda dalam memecahkan masalah yang dihadapi sehingga ide-ide kaya yang progresif dan divergen pada nantinya dapat bersaing dalam kompetisi global yang selalu berubah.
Perkembangan anak didik yang baik adalah perubahan kualitas yang seimbang baik fisik maupun mental. Tidak ada satu aspek perkembangan dalam diri anak didik yang dinilai lebih penting dari yang lainnya. Oleh karena itu, teori kecerdasan majemuk yang dikembangkan oleh psikolog asal Amerika Serikat, Gardner dinilai dapat memenuhi kecenderungan perkembangan anak didik yang bervariasi.
Penyelenggaraan pendidikan saat ini harus diupayakan untuk memberikan pelayanan khusus kepada peserta didik yang mempunyai kreativitas dan juga keberbakatan yang berbeda agar tujuan pendidikan dapat diarahkan menjadi lebih baik.
Muhibbin Syah menjelaskan bahwa akar kata dari pendidikan adalah "didik" atau "mendidik" yang secara harfiah diartikan memelihara dan memberi latihan. Sedangkan "pendidikan", merupakan tahapan-tahapan kegiatan mengubah sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orang melalui upaya pelatihan dan pengajaran. Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan tidak dapat lepas dari pengajaran. Kegiatan dari pengajaran ini melibatkan peserta didik sebagai penerima bahan ajar dengan maksud akhir dari semua hal ini sesuai yang diamanatkan dalam undang-undang no. 20 tentang sisdiknas tahun 2003; agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam pendidikan, peserta didik merupakan titik fokus yang strategis karena kepadanyalah bahan ajar melalui sebuah proses pengajaran diberikan. Sebagai seorang manusia menjadi sebuah aksioma bahwa peserta didik mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, mereka unik dengan seluruh potensi dan kapasitas yang ada pada diri mereka dan keunikan ini tidak dapat diseragamkan dengan satu aturan yang sama antara peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lain, para pendidik dan lembaga sekolah harus menghargai perbedaan yang ada pada diri mereka. Keunikan yang terjadi pada peserta didik memang menimbulkan satu permasalahan tersendiri yang harus diketahui dan dipecahkan sehingga pengelolaan murid (peserta didik) dalam satu kerangka kerja yang terpadu mutlak diperhatikan, terutama pertimbangan pada pengembangan kreativitas, hal ini harus menjadi titik perhatian karena sistem pendidikan memang masih diakui lebih menekankan pengembangan kecerdasan dalam arti yang sempit dan kurang memberikan perhatian kepada pengembangan kreatif peserta didik. Hal ini terjadi dari konsep kreativitas yang masih kurang dipahami secara holistic, juga filsafat pendidikan yang sejak zaman penjajahan bermazhabkan azas tunggal seragam dan berorientasi pada kepentingan-kepentingan, sehingga pada akhirnya berdampak pada cara mengasuh, mendidik dan mengelola pembelajaran peserta didik.
Kebutuhan akan kreativitas tampak dan dirasakan pada semua kegiatan manusia. Perkembangan akhir dari kreativitas akan terkait dengan empat aspek, yaitu: aspek pribadi, pendorong, proses dan produk. Kreativitas akan muncul dari interaksi yang unik dengan lingkungannya.Kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai dan mengujinya. Proses kreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan (motivasi intristik) maupun dorongan eksternal. Motivasi intrinstik ini adalah intelegensi, memang secara historis kretivitas dan keberbakatan diartikan sebagai mempunyai intelegensi yang tinggi, dan tes intellejensi tradisional merupakan ciri utama untuk mengidentifikasikan anak berbakat intelektual tetapi pada akhirnya hal inipun menjadi masalah karena apabila kreativitas dan keberbakatan dilihat dari perspektif intelejensi berbagai talenta khusus yang ada pada peserta didik kurang diperhatikan yang akhirnya melestarikan dan mengembang biakkan Pendidikan tradisional konvensional yang berorientasi dan sangat menghargai kecerdasan linguistik dan logika matematik. Padahal, Teori psikologi pendidikan terbaru yang menghasilkan revolusi paradigma pemikiran tentang konsep kecerdasan diajukan oleh Prof. Gardner yang mengidentifikasikan bahwa dalam diri setiap anak apabila dirinya terlahir dengan otak yang normal dalam arti tidak ada kerusakan pada susunan syarafnya, maka setidaknya terdapat delapan macam kecerdasan yang dimiliki oleh mereka.
Salah satu cara dalam memecahkan masalah ini adalah pengelolaan pelayanan khusus bagi anak-anak yang punya bakat dan kreativitas yang tinggi, hal ini memang telah diamanatkan pemerintah dalam undang-undang No.20 tentang sistem pendidikan nasional 2003, perundangan itu berbunyi " warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus".
Pengertian dari pendidikan khusus disini merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan-pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Pada akhirnya memang diperlukan adanya suatu usaha rasional dalam mengatur persoalan-persoalan yang timbul dari peserta didik karena itu adanya suatu manajemen peserta didik merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan.
Siswa berbakat di dalam kelas mungkin sudah menguasai materi pokok bahasan sebelum diberikan. Mereka memiliki kemampuan untuk belajar keterampilan dan konsep pembelajaran yang lebih maju. Untuk menunjang kemajuan peserta didik diperlukan modifikasi kurikulum. Kurikulum secara umum mencakup semua pengalaman yang diperoleh peserta didik di sekolah, di rumah, dan di dalam masyarakat dan yang membantunya mewujudkan potensi-potensi dirinya. Jika kurikulum umum bertujuan untuk dapat memenuhi kebutuhan pendidikan pada umumnya, maka saat ini haruslah diupayakan penyelenggaraan kurikulum yang berdiferensi untuk memberikan pelayanan terhadap perbedaan dalam minat dan kemampuan peserta didik. Dalam melakukan kurikulum yang berbeda terhadap peserta didik yang mempunyai potensi keberbakatan yang tinggi, guru dapat merencanakan dan menyiapkan materi yang lebih kompleks, menyiapkan bahan ajar yang berbeda, atau mencari penempatan alternatif bagi siswa. Sehingga setiap peserta didik dapat belajar menurut kecepatannya sendiri.
Dalam paradigma berpikir masyarakat Indonesia tentang kreativitas, cukup banyak orangtua dan guru yang mempunyai pandangan bahwa kreativitas itu memerlukan iklim keterbukaan dan kebebasan, sehingga menimbulkan konflik dalam pembelajaran atau pengelolaan pendidikan, karena bertentangan dengan disiplin. Cara pandang ini sangatlah tidak tepat. Kreativitas justru menuntut disiplin agar dapat diwujudkan menjadi produk yang nyata dan bermakna. Displin disini terdiri dari disiplin dalam suatu bidang ilmu tertentu karena bagaimanapun kreativitas seseorang selalu terkait dengan bidang atau domain tertentu, dan kreativitas juga menuntut sikap disiplin internal untuk tidak hanya mempunyai gagasan tetapi juga dapat sampai pada tahap mengembangkan dan memperinci suatu gagasan atau tanggungjawab sampai tuntas.
Masa depan membutuhkan generasi yang memiliki kemampuan menghadapi tantangan dan perubahan yang terjadi dalam era yang semakin mengglobal. Tetapi penyelenggaraan pendidikan di Indonesia saat ini belum mempersiapkan para peserta didik dengan kemampuan berpikir dan sikap kreatif yang sangat menentukan keberhasilan mereka dalam memecahkan masalah.
Kebutuhan akan kreativitas dalam penyelenggaraan pendidikan dewasa ini dirasakan merupakan kebutuhan setiap peserta didik. Dalam masa pembangunan dan era yang semakin mengglobal dan penuh persaingan ini setiap individu dituntut untuk mempersiapkan mentalnya agar mampu menghadapi tantangan-tantangan masa depan. Oleh karena itu, pengembangan potensi kreatif yang pada dasarnya ada pada setiap manusia terlebih pada mereka yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa perlu dimulai sejak usia dini, Baik itu untuk perwujudan diri secara pribadi maupun untuk kelangsungan kemajuan bangsa.
Dalam pengembangan bakat dan kreativitas haruslah bertolak dari karakteristik keberbakatan dan juga kreativitas yang perlu dioptimalkan pada peserta didik yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Motivasi internal ditumbuhkan dengan memperhatikan bakat dan kreativitas individu serta menciptakan iklim yang menjamin kebebasan psikologis untuk ungkapan kreatif peserta didik di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat.
Merupakan suatu tantangan bagi penyelenggaraan pendidikan di Indonesia untuk dapat membina serta mengembangkan secara optimal bakat, minat, dan kemampuan setiap peserta didik sehingga dapat mewujudkan potensi diri sepenuhnya agar nantinya dapat memberikan sumbangan yang bermakna bagi pembangunan masyarakat dan negara. Teknik kreatif ataupun taksonomi belajar pada saat ini haruslah berfokus pada pengembangan bakat dan kreativitas yang diterapkan secara terpadu dan berkesinambungan pada semua mata pelajaran sesuai dengan konsep kurikulum berdiferensi untuk siswa berbakat. Dengan demikian diharapkan nantinya akan dihasilkan produk-produk dari kreativitas itu sendiri dalam bidang sains, teknologi, olahraga, seni dan budaya.
http://community.um.ac.id/archive/index.php/t-57966.html
Selasa, 06 April 2010
FENOMENA ARTIS MENJADI CALEG
Pemilu 2009 adalah pemilu para bintang. Bintang apalagi kalau bukan bintang film, sinetron atau mereka yang dipundaknya ada (bekas) bintangnya. Ya, selain para artis yang meramaikan dunia politik Indonesia saat ini ada juga para purnawirawan jenderal yang berada di jajaran elite politik parpol yang turun gunung dalam proses pencalegan.
Tengok saja beberapa artis yang terlibat saat ini seperti Wulan Guritno, Derry Drajat dan Eko Patrio (PAN), Nurul Arifin (Golkar), Adjie Masaid, Komar, Angelina Sondakh (PD), Rieke Dyah Pitaloka (PDIP), pedangdut Syaiful Jamil, dan Ayu Soraya. Akankah fenomena artis jadi politikus ini sekadar pemanis dan pendulang suara parpol semata.
Saat yang sama, kini, menjelang pemilu 2009, para bekas Jenderal dan purnawirawan banyak meramaikan Partai Politik. Ada yang memang di lamar oleh sebuah Partai, atau memang mereka sendiri yang membuat Partai Politik. Setidaknya tercatat 9 Parpol dimana ada purnawirawan yang ikut dalam kepengurusan parpol. Parpol tersebut antara lain : Partai Karya Peduli Bangsa, Partai Demokrasi Kebangsaan, Partai Golkar, Partai Republik nusantara, Partau Bulan Bintang, Partai Demokrat, Partai Hanura, Gerindra, dan PDI-Perjuangan.
Kondisi ini di satu sisi membuat dinamika politik yang ada semakin “segar”, artinya semakin jauh dari stagnasi dan kekakuan rekrutmen kader yang ada, namun di sisi lain justeru memunculkan pertanyaan, bisakah para bintang ini berlaga sebagaiman mereka berada di dunia mereka sebelumnya.
Jangan sampai, para bintang ini, hanya “fenomena hiasan”, yang dianggap indah dan menarik namun kurang memiliki makna subtantif.
Semoga.
kutipan dari:http://nsudiana.wordpress.com/2008/08/22/fenomena-artis-menjadi-caleg/
Tengok saja beberapa artis yang terlibat saat ini seperti Wulan Guritno, Derry Drajat dan Eko Patrio (PAN), Nurul Arifin (Golkar), Adjie Masaid, Komar, Angelina Sondakh (PD), Rieke Dyah Pitaloka (PDIP), pedangdut Syaiful Jamil, dan Ayu Soraya. Akankah fenomena artis jadi politikus ini sekadar pemanis dan pendulang suara parpol semata.
Saat yang sama, kini, menjelang pemilu 2009, para bekas Jenderal dan purnawirawan banyak meramaikan Partai Politik. Ada yang memang di lamar oleh sebuah Partai, atau memang mereka sendiri yang membuat Partai Politik. Setidaknya tercatat 9 Parpol dimana ada purnawirawan yang ikut dalam kepengurusan parpol. Parpol tersebut antara lain : Partai Karya Peduli Bangsa, Partai Demokrasi Kebangsaan, Partai Golkar, Partai Republik nusantara, Partau Bulan Bintang, Partai Demokrat, Partai Hanura, Gerindra, dan PDI-Perjuangan.
Kondisi ini di satu sisi membuat dinamika politik yang ada semakin “segar”, artinya semakin jauh dari stagnasi dan kekakuan rekrutmen kader yang ada, namun di sisi lain justeru memunculkan pertanyaan, bisakah para bintang ini berlaga sebagaiman mereka berada di dunia mereka sebelumnya.
Jangan sampai, para bintang ini, hanya “fenomena hiasan”, yang dianggap indah dan menarik namun kurang memiliki makna subtantif.
Semoga.
kutipan dari:http://nsudiana.wordpress.com/2008/08/22/fenomena-artis-menjadi-caleg/
PEREMPUAN DAN MEDIA MASSA
Persoalan tentang perempuan merupakan persoalan yang senantiasa aktual dan seringkali mengundang perdebatan panjang yang tak berujung. Apapun isu tentang perempuan tidak terasa basi untuk menghiasi atmosfir pembicaraan publik, dan media massa tentu saja merupakan pihak yang sangat berkepentingan terhadap dieksposnya persoalan-persoalan yang menarik seputar persoalan perempuan untuk bisa di konsumsi khalayak.
Media massa dan perempuan ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa di pisahkan, keduanya memiliki kaitan erat yang berjalin berkelindan saling melengkapi. Perempuan banyak yang memanfaatkan jasa media massa demi untuk meningkatkan popularitasnya, sebaliknya media massa butuh sebuah “nuansa khas” dari seorang perempuan, mulai dari sisi keberhasilan karir dan jabatannya, ketegarannya menyikapi sebuah persoalan besar, “kenekadannya” dalam melakukan sesuatu dan terakhir adalah keberaniannya untuk memperlihatkan auratnya. Setiap perempuan sebenarnya secara umum memiliki “rasa” yang sama dengan laki-laki yakni keinginan untuk terkenal, untuk mendapatkan banyak uang serta untuk menjadi terhormat.
Persoalannya kemudian, apakah akan kita biarkan kondisi ini berjalan apa adanya, tanpa sebuah kontrol dan garis batas yang tegas. Relakah kita mendiamkan kondisi ini dan sebaliknya seolah menutup mata dan telinga kita serta sama sekali tidak peduli dengan hal ini. Bagi seorang manusia yang masih memiliki nurani dan peduli pada nasib generasi mudanya ke depan persoalan ini menjadi tidak sederhana. Ia akan memandang dengan serius dan tentu saja tidak akan membiarkan kondisi ini terus berlangsung. Orang yang punya nurani tentu tidak akan bisa dengan tenang “menikmati” persoalan ini, Ia akan malu mengkonsumsi gambar-gambar seronok yang tersaji di berbagai media massa.
Ada Empat alasan kenapa kita harus peduli ditertibkannya media massa yang memuat dan menampilkan gambar-gambar seronok dalam penerbitannya :
Pertama, ketika masyarakat kita belum terdidik dan cerdas dalam memilah-milah informasi yang sampai kepadanya apakah ini merupakan sebuah pembenaran bagi pengusaha media massa untuk– karena alasan permintaan pasar yang sebenarnya lebih berorientasi pada keuntungan yang akan diraih–menyajikan info-info serta foto-foto vulgar seorang perempuan tanpa merasa sedikitpun membuat kesalahan. Seandainya memang benar, lantas kemana pertimbangan moralitas mereka. Mengapa kondisi masyarakat yang sebagian besarnya memang belum memiliki pendidikan yang cukup terus dibodohi dan direndahkan martabatnya. Harusnya ada proses pendidikan di tingkat wacana masyarakat untuk sedikit demi sedikit menuju sebuah perbaikan. Apabila pembodohan ini dilakukan terus-menerus, bisa jadi berjalannya waktu tidak akan berpengaruh sedikitpun terhadap perubahan cara pandang dan cara berpikir masyarakat. Kemajuan berpikir kalau demikian caranya hanya menjadi sebuah retorika semu semata, karena langkanya proses “pencerahan” yang sampai ke masyarakat.
Apakah mereka yang selama ini bergelut di berbagai media massa yang ada tidak memiliki pertimbangan yang jauh ke depan, demi penyelamatan sebuah generasi. Kenapa dengan mudah persoalan moralitas ini di tukar dengan nilai-nilai nominal lembaran-lembaran uang tunai. “Sungguh hebat” orang-orang yang sengaja–bahkan mungkin dengan senang hati–meracuni generasi muda bangsa hanya sekedar alasan permintaan pasar. Siapapun mereka–mulai dari si artisnya sendiri, fotografernya, pengusaha media yang bersangkutan serta seluruh yang terkait dengan pembuatan dan penyebaran hal itu–memiliki andil yang sama dalam melakukan demoralisasi anak bangsa. Kondisi ini akan lebih parah lagi manakala pejabat-pejabat yang terkait dengan ijin dan pengontrolan media massa tidak ambil pusing dengan persoalan ini. Apa jadinya kalau mereka yang punya otoritas dalam pengambilan kebijakan ternyata justeru malah mendapatkan keuntungan dari penerbitan yang berasal dari media massa tersebut.
Kedua, apakah karena alasan popularitas seorang perempuan dengan senang hati memamerkan auratnya di hadapan publik. Benarkah popularitas hanya bisa dicapai dengan hal itu, tidak adakah hal lain yang bisa mendongkrak kepopuleran seorang perempuan. Apabila benar, terlalu naif rasanya jika popularitas yang dicapai tersebut hanya karena memiliki “keberanian” memamerkan kemolekan tubuh. Sungguh rendah martabat seorang perempuan kalau seperti itu. Padahal seorang manusia diciptakan Tuhannya dengan sejumlah bekal hidup dan potensi diri yang akan memandu manusia menjadi terhormat diantara makhluk lainnya yang ada di bumi. Salah satu yang sangat berharga bagi manusia adalah diberikannya manusia berupa seperangkat bagian tubuh yang bernama akal dan pikiran demi untuk kelangsungan hidupnya, yang akan menjadi penentu arah dari seluruh keinginan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Dengan demikian jelas ukuran popularitas seorang perempuan akan sangat rendah nilainya jika hanya disandarkan pada penilaian–penilaian fisik semata. Siapapun orangnya, jika hanya mampu mengeskploitasi kemolekan tubuhnya semata dalam mencapai popularitasnya maka ia harus rela disamakan nilainya dengan binatang peliharaan, yang lebih banyak di nilai dengan standar–standar yang rendah seperti itu.
Ketiga, di kalangan beberapa artis serta foto model tercipta stigma yang salah tentang arti profesionalisme kerja di bidang mereka. Mereka merasa bahwa semakin mereka berani membuka tubuhnya maka mereka akan semakin banyak mendapatkan imbalan. Tidak mengherankan jika kondisi ini memicu persaingan tidak sehat di kalangan para artis, mereka beranggapan masalah pose-pose vulgar mereka bagian dari dunia kerja mereka.
Keempat, anggapan bahwa pose-pose vulgar perempuan yang ada di media massa merupakan perwujudan nilai seni, rasanya terlalu dilebih-lebihkan. Menurut Rendra, saat menghadiri peluncuran album “Bung Karno milik rakyat” apa yang terjadi saat ini sudah mengarah ke pornografi. Ia mengatakan pornografi bukan hasil karya seni tapi merupakan perbuatan pelecehan terhadap martabat perempuan karena dalam pornografi selera murahan dikipas-kipas dengan mengeksploitasi aurat kaum hawa. Ia menambahkan bahwa pornografi kebanyakan membangkitkan selera rendah yang menjadikan perempuan sebagai obyek, padahal sensualitas perempuan penuh dengan sensualitas kasih sayang bukan sensualitas yang rendahan. Unsur keindahan di dalam bentuk tubuh wanita merupakan ciptaan Tuhan yang tidak layak dan tidak patut dijadikan obyek untuk membangkitkan selera murahan dan rendahan.
Logika mempertontonkan aurat wanita karena alasana seni merupakan logika yang terasa dipaksakan untuk tidak sekedar pengedepanan kepentingnan sang seniman saja dalam lebih banyak menikmati dunianya saja, bukankah seni pada dasarnya berorientasi pada penciptaan keindahan sejati yang tidak didasarkan pada pikiran-pikiran murahan. Kalau memang alasan pengambilan gambar-gambar seronok itu demi alasan seni, apakah tidak ada lagi obyek yang pantas untuk menunjukkan betapa banyak obyek lain ciptaan Tuhan yang sebenarnya tak kalah indah jika dibanding dengan hanya sekedar tubuh seorang wanita.
kutipan dari:http://nsudiana.wordpress.com/2008/01/04/perempuan-dan-media-massa/
Media massa dan perempuan ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa di pisahkan, keduanya memiliki kaitan erat yang berjalin berkelindan saling melengkapi. Perempuan banyak yang memanfaatkan jasa media massa demi untuk meningkatkan popularitasnya, sebaliknya media massa butuh sebuah “nuansa khas” dari seorang perempuan, mulai dari sisi keberhasilan karir dan jabatannya, ketegarannya menyikapi sebuah persoalan besar, “kenekadannya” dalam melakukan sesuatu dan terakhir adalah keberaniannya untuk memperlihatkan auratnya. Setiap perempuan sebenarnya secara umum memiliki “rasa” yang sama dengan laki-laki yakni keinginan untuk terkenal, untuk mendapatkan banyak uang serta untuk menjadi terhormat.
Persoalannya kemudian, apakah akan kita biarkan kondisi ini berjalan apa adanya, tanpa sebuah kontrol dan garis batas yang tegas. Relakah kita mendiamkan kondisi ini dan sebaliknya seolah menutup mata dan telinga kita serta sama sekali tidak peduli dengan hal ini. Bagi seorang manusia yang masih memiliki nurani dan peduli pada nasib generasi mudanya ke depan persoalan ini menjadi tidak sederhana. Ia akan memandang dengan serius dan tentu saja tidak akan membiarkan kondisi ini terus berlangsung. Orang yang punya nurani tentu tidak akan bisa dengan tenang “menikmati” persoalan ini, Ia akan malu mengkonsumsi gambar-gambar seronok yang tersaji di berbagai media massa.
Ada Empat alasan kenapa kita harus peduli ditertibkannya media massa yang memuat dan menampilkan gambar-gambar seronok dalam penerbitannya :
Pertama, ketika masyarakat kita belum terdidik dan cerdas dalam memilah-milah informasi yang sampai kepadanya apakah ini merupakan sebuah pembenaran bagi pengusaha media massa untuk– karena alasan permintaan pasar yang sebenarnya lebih berorientasi pada keuntungan yang akan diraih–menyajikan info-info serta foto-foto vulgar seorang perempuan tanpa merasa sedikitpun membuat kesalahan. Seandainya memang benar, lantas kemana pertimbangan moralitas mereka. Mengapa kondisi masyarakat yang sebagian besarnya memang belum memiliki pendidikan yang cukup terus dibodohi dan direndahkan martabatnya. Harusnya ada proses pendidikan di tingkat wacana masyarakat untuk sedikit demi sedikit menuju sebuah perbaikan. Apabila pembodohan ini dilakukan terus-menerus, bisa jadi berjalannya waktu tidak akan berpengaruh sedikitpun terhadap perubahan cara pandang dan cara berpikir masyarakat. Kemajuan berpikir kalau demikian caranya hanya menjadi sebuah retorika semu semata, karena langkanya proses “pencerahan” yang sampai ke masyarakat.
Apakah mereka yang selama ini bergelut di berbagai media massa yang ada tidak memiliki pertimbangan yang jauh ke depan, demi penyelamatan sebuah generasi. Kenapa dengan mudah persoalan moralitas ini di tukar dengan nilai-nilai nominal lembaran-lembaran uang tunai. “Sungguh hebat” orang-orang yang sengaja–bahkan mungkin dengan senang hati–meracuni generasi muda bangsa hanya sekedar alasan permintaan pasar. Siapapun mereka–mulai dari si artisnya sendiri, fotografernya, pengusaha media yang bersangkutan serta seluruh yang terkait dengan pembuatan dan penyebaran hal itu–memiliki andil yang sama dalam melakukan demoralisasi anak bangsa. Kondisi ini akan lebih parah lagi manakala pejabat-pejabat yang terkait dengan ijin dan pengontrolan media massa tidak ambil pusing dengan persoalan ini. Apa jadinya kalau mereka yang punya otoritas dalam pengambilan kebijakan ternyata justeru malah mendapatkan keuntungan dari penerbitan yang berasal dari media massa tersebut.
Kedua, apakah karena alasan popularitas seorang perempuan dengan senang hati memamerkan auratnya di hadapan publik. Benarkah popularitas hanya bisa dicapai dengan hal itu, tidak adakah hal lain yang bisa mendongkrak kepopuleran seorang perempuan. Apabila benar, terlalu naif rasanya jika popularitas yang dicapai tersebut hanya karena memiliki “keberanian” memamerkan kemolekan tubuh. Sungguh rendah martabat seorang perempuan kalau seperti itu. Padahal seorang manusia diciptakan Tuhannya dengan sejumlah bekal hidup dan potensi diri yang akan memandu manusia menjadi terhormat diantara makhluk lainnya yang ada di bumi. Salah satu yang sangat berharga bagi manusia adalah diberikannya manusia berupa seperangkat bagian tubuh yang bernama akal dan pikiran demi untuk kelangsungan hidupnya, yang akan menjadi penentu arah dari seluruh keinginan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Dengan demikian jelas ukuran popularitas seorang perempuan akan sangat rendah nilainya jika hanya disandarkan pada penilaian–penilaian fisik semata. Siapapun orangnya, jika hanya mampu mengeskploitasi kemolekan tubuhnya semata dalam mencapai popularitasnya maka ia harus rela disamakan nilainya dengan binatang peliharaan, yang lebih banyak di nilai dengan standar–standar yang rendah seperti itu.
Ketiga, di kalangan beberapa artis serta foto model tercipta stigma yang salah tentang arti profesionalisme kerja di bidang mereka. Mereka merasa bahwa semakin mereka berani membuka tubuhnya maka mereka akan semakin banyak mendapatkan imbalan. Tidak mengherankan jika kondisi ini memicu persaingan tidak sehat di kalangan para artis, mereka beranggapan masalah pose-pose vulgar mereka bagian dari dunia kerja mereka.
Keempat, anggapan bahwa pose-pose vulgar perempuan yang ada di media massa merupakan perwujudan nilai seni, rasanya terlalu dilebih-lebihkan. Menurut Rendra, saat menghadiri peluncuran album “Bung Karno milik rakyat” apa yang terjadi saat ini sudah mengarah ke pornografi. Ia mengatakan pornografi bukan hasil karya seni tapi merupakan perbuatan pelecehan terhadap martabat perempuan karena dalam pornografi selera murahan dikipas-kipas dengan mengeksploitasi aurat kaum hawa. Ia menambahkan bahwa pornografi kebanyakan membangkitkan selera rendah yang menjadikan perempuan sebagai obyek, padahal sensualitas perempuan penuh dengan sensualitas kasih sayang bukan sensualitas yang rendahan. Unsur keindahan di dalam bentuk tubuh wanita merupakan ciptaan Tuhan yang tidak layak dan tidak patut dijadikan obyek untuk membangkitkan selera murahan dan rendahan.
Logika mempertontonkan aurat wanita karena alasana seni merupakan logika yang terasa dipaksakan untuk tidak sekedar pengedepanan kepentingnan sang seniman saja dalam lebih banyak menikmati dunianya saja, bukankah seni pada dasarnya berorientasi pada penciptaan keindahan sejati yang tidak didasarkan pada pikiran-pikiran murahan. Kalau memang alasan pengambilan gambar-gambar seronok itu demi alasan seni, apakah tidak ada lagi obyek yang pantas untuk menunjukkan betapa banyak obyek lain ciptaan Tuhan yang sebenarnya tak kalah indah jika dibanding dengan hanya sekedar tubuh seorang wanita.
kutipan dari:http://nsudiana.wordpress.com/2008/01/04/perempuan-dan-media-massa/
MENUJU PUNCAK KREATIVITAS
Manusia adalah makhluk kreatif. Tanpa kehadiran manusia di bumi, kita tidak tahu seperti apa jadinya dunia. Mungkin sepi, senyap dan tanpa dinamika. Walau dalam sejarah penciptaan manusia pertama (Nabi Adam AS) ditentang oleh Iblis, ternyata Allah SWT memang memiliki rencana-Nya sendiri. Adam Ia ciptakan walau Iblis mengajukan protes dan keberatan akan kekhawatirannya bahwa manusia hanya akan melakukan kerusakan serta menumpahkan darah (QS. Al Baqarah (2):30). Kreativitas bagi makhluk yang bernama manusia adalah sebuah keniscayaan. Dengan kreativitasnya, ia menyelesaikan berbagai masalah yang muncul dalam kehidupannya. Apabila kita cermati, istilah atau kata kreatif sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah “memiliki daya cipta ; memiliki kemampuan untuk menciptakan” serta “mengandung makna daya cipta”, sedangkan kreativitas berarti “kemampuan untuk mencipta, daya cipta atau perihal berkreasi”.
Mengapa Harus Kreatif?
Ada beberapa alasan mengapa kita harus kreatif :
1. Karena kreativitas adalah jembatan alternatif mempercepat tercapainya tujuan,
2. Dengan kreativitas hidup menjadi lebih menantang untuk dilalui
3. Bersama kreatifitas kepuasan yang didapatkan akan semakin tinggi.
Menuju Kreativitas
Menjadikan diri kita kreatif berarti bersedia untuk membuka diri terhadap hal-hal baru, inovasi dan perluasan berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi. Dengan kesediaan kita untuk menjadi kreatif, kita juga sudah harus memulai langkah-langkah besar menuju medan kreatifitas yang seakan terus terbuka tanpa batas. Mari terus hidupkan mimpi, karena para inovator dunia memulai karya mereka dari mimpi.
Beberapa Kasus Orang Kreatif
Kasus Pertama, pada tahun 1800, dunia dilanda kekacauan, wabah pes, cacar, demam tipus, malaria & kolera membunuh jutaan orang. Dan saat itu ada seorang dokter yang tidak bisa duduk manis menyaksikan apa yang terjadi. Dengan segenap kemampuan yang dia miliki, ia, dokter yang kelak terkenal, yang bernama Edward Janner mengembangkan sebuah cara untuk mencegah penyakit, bukannya mengobati penyakit itu di kemudian hari.
Kasus Kedua, terjadi sekitar tahun 1900. Saat itu, kuda merupakan alat transportasi utama, tetapi sepeda dan mobil juga sudah mulai populer. Walau saat itu jalanan tidak sepadat sekarang, ternyata hampir setiap hari ada orang yang tewas karena kecelakaan di jalan. Dan ketika masalah ini belum menemukan solusinya, tiba-tiba munculah dua orang yang mengaku Wright bersaudara. Mereka adalah montir yang datang dan menawarkan bahwa mereka bisa membuat sebuah mesin terbang. Bayangkan kalau anda saat itu ada di sana, anda mungkin akan mengatakan gila, kurang waras atau paling tidak mengatakan “huh, dasar kurang kerjaan”.
Kasus Ketiga, terjadi sekitar tahun 2004. Era itu, zakat masih dianggap sesuatu yang tidak penting. Orang umumnya membayangkan masalah zakat adalah masalah pengurangan hartanya dari hasil keringat dan kerja kerasnya. Pengelolaanya pun seringkali asal-asalan & tdk profesional. Jika saat itu anda adalah orang kaya dan apa yang terjadi ketika itu, ketika anda diyakinkan bahwa zakat bisa memperbaiki perekonomian umat. Melalui zakat dijelaskan pula bahwa bukan saja harta yang ada, yang jadi bagiannya para penerima zakat akan diurus dengan baik, bahkan sekaligus mengelolanya secara profesional.
Ketika mendengar ketiga kasus kreatif tadi, kira-kira apa yang akan anda lakukan? tersenyum, menganggapnya perbuatan gila yang tidak sesuai jaman, menjadi tertarik & ikut terlibat, minimal antusias membahasnya atau malah anda justeru hanya sekedar mengangguk, menguap & melupakannya. Jika dari rangkaian ketiga kasus tadi anda menunjukan sikap dan minat terhadap ketiganya, percayalah benih kreatifitas sesungguhnya telah tumbuh dalam diri anda,tinggal sekarang, bagaimana mengelola potensi yang ada tadi.
Dalam dunia kreatifitas, orang yang disiplin & menyukai formalitas pada umumnya memiliki kecenderungan untuk tetap berada di dalam “jalur kenyamanan” hidup. Mereka sukar memberi ruang kreativitas dalam dirinya. Ada begitu banyak kekhawatiran yang mengiringi setiap muncul kreativitas dalam berbagai moment kehidupan mereka. Dan umumnya, mereka yang secara sifat dan kepribadian lebih periang cenderung untuk lebih mudah memiliki kreativitas. Mereka walau tetap berhitung dengan segala kemampuan berani menghadapi hal-hal baru yang kadang penuh tantangan dan resiko.
5 Langkah Menjadi kreatif
Dibawah ini ada resep sederhana yang ada dalam buku Megacreativity karangan Andrei G Aleinikinov :
1. Berhentilah Berhenti
Untuk mencapai level jenius, diperlukan suatu tindakan oleh anda sendiri. Menjadi seorang jenius memerlukan tindakan dan pengalaman-pengalaman jenius. Menjadi jenius bukanlah sekedar mengetahui bahwa hal itu bisa dilakukan. Hasil dari itu semua Anda akan menjadi makin kaya pengetahuan (kaya pengetahuan, merupakan posisi yang kuat menuju puncak kreativitas & kesuksesan). Di masa mendatang, anda akan jadi pemenang. Kita akan lebih cepat dalam mengambil langkah-langkah antisipasi. Dengan begitu, kita akan menganggapnya tantangan. Kita akan segera ubah situasi, menyesuaikan perilaku & pendekatan kita untuk mencapai kemenangan baru. Karena itu : Hindarilah menjadi pasif, Aktiflah dalam menghadapi kesulitan dan latihlah selalu “otot berpikir” anda. Ingat bedanya orang biasa dengan orang kreatif adalah : ORANG KREATIF TIDAK PERNAH BERHENTI (Ia akan terus terlibat & tak ingin berhenti).
2. Mengapa Tidak Setiap Tidak
Dalam menuju puncak kreativitas, selalulah katakana “ya” untuk segala kemungkinan & ketidakmungkinan yang akan terjadi. Karena dalam konteks tersebut, terdapat kata kunci untuk menuju dunia kreativitas yakni keterbukaan. Mengapa keterbukaan, karena dengan sikap terbuka, kita dengan mudah menyiapkan diri bertemu dengan begitu banyak kemungkian dan juga terhadap cakrawala-cakrawala kuantitatif baru untuk mencoba dari yang selama ini anda lakukan). Akan ada banyak hal yang bisa diraih, jika kita mengerjakan suatu hal lebih lama lagi. Mengerjakan sesuatu lebih banyak tidaklah cukup.Diperlukan metode-metode lain untuk menemukan cara-cara mempercepat proses sampai kepada ide-ide yang orisinal, berkualitas tinggi & lebih cepat.
3. Majulah Untuk Sejuta
Berinovasilah, Ber-megainovasilah dan keluar dari sistem jika anda ingin menuju puncak kreatifitas. Latihlah otak anda terus menerus bisa kreatif dengan melakukan pengembaraan imajinasi. Dalam kerangka membiasakan otak mengamati, melakukan serta mengevaluasi sesuatu. Ketika ingin bisa lebih kreatif, sesekali latihlah diri kita untuk keluar dari system. Mulailah otak kita bekerja dengan tidak semata-mata menggantungkan pada apa yang ada dan telah biasa terjadi. Latihlah otak kita untuk “out of the box” agar menemukan kebaruan-kebaruan lain yang lebih baru.
4. Orang-Orang Meganilai
Karena anda sedang belajar menuju manusia kreatif, maka jangan pernah tanggung-tanggung. Kini kita harus sudah mulai menciptakan solusi-demi solusi atas apa yang terjadi di sekeliling kita. Melangkahlah melompati cakrawala, melewati batas pemikiran tradisioanal yang biasa.
5. Meluncur Ke Orbit Jenius
Untuk bisa meluncur menjadi manusia super jenius, butuh kemampuan untuk bisa menguasai metode para jenius yang pernah lahir agar kita memiliki pemahaman dan pengetahuan untuk melaju mengatasi berbagai rintangan jadi kreatif. Dan bagaimana langkah selanjutnya, apakah anda tertantang menjadi kreatif atau justeru “enjoy aja” menikmati apa yang ada.
KUTIPAN DARI:http://nsudiana.wordpress.com/2008/03/19/menuju-puncak-kreativitas/
Mengapa Harus Kreatif?
Ada beberapa alasan mengapa kita harus kreatif :
1. Karena kreativitas adalah jembatan alternatif mempercepat tercapainya tujuan,
2. Dengan kreativitas hidup menjadi lebih menantang untuk dilalui
3. Bersama kreatifitas kepuasan yang didapatkan akan semakin tinggi.
Menuju Kreativitas
Menjadikan diri kita kreatif berarti bersedia untuk membuka diri terhadap hal-hal baru, inovasi dan perluasan berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi. Dengan kesediaan kita untuk menjadi kreatif, kita juga sudah harus memulai langkah-langkah besar menuju medan kreatifitas yang seakan terus terbuka tanpa batas. Mari terus hidupkan mimpi, karena para inovator dunia memulai karya mereka dari mimpi.
Beberapa Kasus Orang Kreatif
Kasus Pertama, pada tahun 1800, dunia dilanda kekacauan, wabah pes, cacar, demam tipus, malaria & kolera membunuh jutaan orang. Dan saat itu ada seorang dokter yang tidak bisa duduk manis menyaksikan apa yang terjadi. Dengan segenap kemampuan yang dia miliki, ia, dokter yang kelak terkenal, yang bernama Edward Janner mengembangkan sebuah cara untuk mencegah penyakit, bukannya mengobati penyakit itu di kemudian hari.
Kasus Kedua, terjadi sekitar tahun 1900. Saat itu, kuda merupakan alat transportasi utama, tetapi sepeda dan mobil juga sudah mulai populer. Walau saat itu jalanan tidak sepadat sekarang, ternyata hampir setiap hari ada orang yang tewas karena kecelakaan di jalan. Dan ketika masalah ini belum menemukan solusinya, tiba-tiba munculah dua orang yang mengaku Wright bersaudara. Mereka adalah montir yang datang dan menawarkan bahwa mereka bisa membuat sebuah mesin terbang. Bayangkan kalau anda saat itu ada di sana, anda mungkin akan mengatakan gila, kurang waras atau paling tidak mengatakan “huh, dasar kurang kerjaan”.
Kasus Ketiga, terjadi sekitar tahun 2004. Era itu, zakat masih dianggap sesuatu yang tidak penting. Orang umumnya membayangkan masalah zakat adalah masalah pengurangan hartanya dari hasil keringat dan kerja kerasnya. Pengelolaanya pun seringkali asal-asalan & tdk profesional. Jika saat itu anda adalah orang kaya dan apa yang terjadi ketika itu, ketika anda diyakinkan bahwa zakat bisa memperbaiki perekonomian umat. Melalui zakat dijelaskan pula bahwa bukan saja harta yang ada, yang jadi bagiannya para penerima zakat akan diurus dengan baik, bahkan sekaligus mengelolanya secara profesional.
Ketika mendengar ketiga kasus kreatif tadi, kira-kira apa yang akan anda lakukan? tersenyum, menganggapnya perbuatan gila yang tidak sesuai jaman, menjadi tertarik & ikut terlibat, minimal antusias membahasnya atau malah anda justeru hanya sekedar mengangguk, menguap & melupakannya. Jika dari rangkaian ketiga kasus tadi anda menunjukan sikap dan minat terhadap ketiganya, percayalah benih kreatifitas sesungguhnya telah tumbuh dalam diri anda,tinggal sekarang, bagaimana mengelola potensi yang ada tadi.
Dalam dunia kreatifitas, orang yang disiplin & menyukai formalitas pada umumnya memiliki kecenderungan untuk tetap berada di dalam “jalur kenyamanan” hidup. Mereka sukar memberi ruang kreativitas dalam dirinya. Ada begitu banyak kekhawatiran yang mengiringi setiap muncul kreativitas dalam berbagai moment kehidupan mereka. Dan umumnya, mereka yang secara sifat dan kepribadian lebih periang cenderung untuk lebih mudah memiliki kreativitas. Mereka walau tetap berhitung dengan segala kemampuan berani menghadapi hal-hal baru yang kadang penuh tantangan dan resiko.
5 Langkah Menjadi kreatif
Dibawah ini ada resep sederhana yang ada dalam buku Megacreativity karangan Andrei G Aleinikinov :
1. Berhentilah Berhenti
Untuk mencapai level jenius, diperlukan suatu tindakan oleh anda sendiri. Menjadi seorang jenius memerlukan tindakan dan pengalaman-pengalaman jenius. Menjadi jenius bukanlah sekedar mengetahui bahwa hal itu bisa dilakukan. Hasil dari itu semua Anda akan menjadi makin kaya pengetahuan (kaya pengetahuan, merupakan posisi yang kuat menuju puncak kreativitas & kesuksesan). Di masa mendatang, anda akan jadi pemenang. Kita akan lebih cepat dalam mengambil langkah-langkah antisipasi. Dengan begitu, kita akan menganggapnya tantangan. Kita akan segera ubah situasi, menyesuaikan perilaku & pendekatan kita untuk mencapai kemenangan baru. Karena itu : Hindarilah menjadi pasif, Aktiflah dalam menghadapi kesulitan dan latihlah selalu “otot berpikir” anda. Ingat bedanya orang biasa dengan orang kreatif adalah : ORANG KREATIF TIDAK PERNAH BERHENTI (Ia akan terus terlibat & tak ingin berhenti).
2. Mengapa Tidak Setiap Tidak
Dalam menuju puncak kreativitas, selalulah katakana “ya” untuk segala kemungkinan & ketidakmungkinan yang akan terjadi. Karena dalam konteks tersebut, terdapat kata kunci untuk menuju dunia kreativitas yakni keterbukaan. Mengapa keterbukaan, karena dengan sikap terbuka, kita dengan mudah menyiapkan diri bertemu dengan begitu banyak kemungkian dan juga terhadap cakrawala-cakrawala kuantitatif baru untuk mencoba dari yang selama ini anda lakukan). Akan ada banyak hal yang bisa diraih, jika kita mengerjakan suatu hal lebih lama lagi. Mengerjakan sesuatu lebih banyak tidaklah cukup.Diperlukan metode-metode lain untuk menemukan cara-cara mempercepat proses sampai kepada ide-ide yang orisinal, berkualitas tinggi & lebih cepat.
3. Majulah Untuk Sejuta
Berinovasilah, Ber-megainovasilah dan keluar dari sistem jika anda ingin menuju puncak kreatifitas. Latihlah otak anda terus menerus bisa kreatif dengan melakukan pengembaraan imajinasi. Dalam kerangka membiasakan otak mengamati, melakukan serta mengevaluasi sesuatu. Ketika ingin bisa lebih kreatif, sesekali latihlah diri kita untuk keluar dari system. Mulailah otak kita bekerja dengan tidak semata-mata menggantungkan pada apa yang ada dan telah biasa terjadi. Latihlah otak kita untuk “out of the box” agar menemukan kebaruan-kebaruan lain yang lebih baru.
4. Orang-Orang Meganilai
Karena anda sedang belajar menuju manusia kreatif, maka jangan pernah tanggung-tanggung. Kini kita harus sudah mulai menciptakan solusi-demi solusi atas apa yang terjadi di sekeliling kita. Melangkahlah melompati cakrawala, melewati batas pemikiran tradisioanal yang biasa.
5. Meluncur Ke Orbit Jenius
Untuk bisa meluncur menjadi manusia super jenius, butuh kemampuan untuk bisa menguasai metode para jenius yang pernah lahir agar kita memiliki pemahaman dan pengetahuan untuk melaju mengatasi berbagai rintangan jadi kreatif. Dan bagaimana langkah selanjutnya, apakah anda tertantang menjadi kreatif atau justeru “enjoy aja” menikmati apa yang ada.
KUTIPAN DARI:http://nsudiana.wordpress.com/2008/03/19/menuju-puncak-kreativitas/
Masalah yang Dapat Temani ASD
Sensory masalah. Kapan persepsi anak-anak yang akurat, mereka dapat belajar dari apa yang mereka lihat, merasa, atau mendengar. Di sisi lain, jika informasi sensorik rusak, pengalaman anak dunia dapat membingungkan. ASD Banyak anak-anak sangat peka atau bahkan menyakitkan peka terhadap suara-suara tertentu, tekstur, rasa, dan bau. Beberapa anak merasa menemukan pakaian menyentuh kulit mereka hampir tak tertahankan. Beberapa suara-penyedot debu, sebuah telepon berdering, badai tiba-tiba, bahkan suara gelombang memukul-mukul garis pantai-akan menyebabkan anak-anak untuk menutupi telinga mereka dan berteriak.
Pada ASD, otak tampaknya tidak dapat menyeimbangkan indra tepat. Beberapa anak ASD yang menyadari sangat dingin atau sakit. Anak ASD mungkin jatuh dan mematahkan lengan, namun tidak pernah menangis. Lain mungkin bash kepalanya ke dinding dan tidak meringis, tapi sentuhan ringan bisa membuat anak menjerit dengan alarm.
Mental retardasi ASD. Banyak anak-anak dengan memiliki beberapa derajat penurunan mental. Ketika diuji, beberapa daerah mungkin kemampuan normal, sedangkan yang lain dapat sangat lemah. Sebagai contoh, seorang anak dengan ASD dapat melakukannya dengan baik pada bagian-bagian dari tes yang mengukur keterampilan visual tetapi mendapatkan skor rendah pada subyek bahasa.
Kejang. Satu dari empat anak-anak dengan ASD mengembangkan kejang, sering mulai baik pada anak usia dini atau remaja,. 5 Kejang, disebabkan oleh aktivitas listrik abnormal dalam otak dapat menghasilkan kehilangan sementara kesadaran (penggelapan ""), sebuah kekejangan tubuh, gerakan yang tidak biasa, atau menatap mantra. Kadang-kadang faktor penyebabnya kurang tidur atau demam tinggi. Sebuah EEG (elektroensefalogram-rekaman dari arus listrik yang dikembangkan di otak melalui elektroda diterapkan pada kulit kepala) dapat membantu mengkonfirmasi adanya penyitaan itu.
Dalam kebanyakan kasus, serangan dapat dikendalikan oleh sejumlah obat-obatan yang disebut "anticonvulsants" Dosis obat. Yang disesuaikan dengan hati-hati sehingga seminimum mungkin obat akan digunakan untuk menjadi efektif.
Fragile X Syndrome. Gangguan ini adalah bentuk paling umum diwarisi dari keterbelakangan mental. Ini dinamakan demikian karena salah satu bagian dari kromosom X memiliki cacat yang muncul sepotong dicubit dan rapuh ketika berada di bawah mikroskop. Sindrom Fragile X mempengaruhi sekitar dua sampai lima persen dari orang dengan ASD. Sangat penting untuk memiliki anak dengan ASD diperiksa Fragile X, terutama jika orangtua mempertimbangkan memiliki anak lagi. Untuk alasan yang tidak diketahui, jika seorang anak dengan ASD juga memiliki Fragile X, ada satu-dalam-dua kesempatan bahwa anak laki-laki lahir ke orangtua sama akan memiliki sindrom tersebut. 6 lainnya anggota keluarga yang mungkin memikirkan memiliki anak mungkin juga ingin diperiksa untuk sindroma ini.
dibedakan dapat dilakukan antara seorang ayah dan kemampuan ibu untuk menyampaikan seorang anak perempuan atau anak gen pada kromosom X yang dihubungkan dengan sindrom X rapuh. Karena baik laki-laki (XY) dan perempuan (XX) memiliki minimal satu kromosom X, keduanya dapat lulus pada gen bermutasi untuk anak-anak mereka.
Seorang ayah dengan gen diubah untuk Fragile X pada kromosom X-nya hanya akan berlalu gen itu pada putrinya. Dia melewati satu kromosom Y ke putra-putranya, yang tidak mengirimkan kondisi. Oleh karena itu, jika ayah memiliki gen pada kromosom X, tapi ibu kromosom X normal, semua anak perempuan pasangan itu akan memiliki gen untuk Fragile X, sementara tak satu pun dari anak-anak mereka akan punya gen bermutasi. Karena ibu mewariskan kromosom X hanya untuk anak-anak mereka, jika ibu memiliki gen untuk Fragile X, dia bisa lewat gen yang baik untuk putra-putranya atau putrinya. Jika ibu memiliki gen bermutasi pada satu kromosom X dan memiliki satu kromosom X normal, dan ayah tidak mempunyai mutasi genetik, semua anak memiliki kesempatan untuk mewarisi gen bermutasi 50-50.
Peluang dicatat di sini berlaku untuk setiap anak orang tua telah 7 dalam hal prevalensi, statistik terbaru yang konsisten dalam menunjukkan bahwa 5% dari orang dengan autisme dipengaruhi oleh X rapuh dan 10% sampai 15% dari mereka dengan X rapuh menunjukkan ciri-ciri autistik .
Tuberous sclerosis. Tuberous sklerosis adalah gangguan genetik langka yang menyebabkan tumor jinak tumbuh di otak serta organ vital lainnya. Memiliki asosiasi yang kuat dengan konsisten ASD. Satu sampai 4 persen orang dengan ASD juga memiliki tuberous sclerosis. 8
SUMBER:http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.nimh.nih.gov/health/publications/autism/complete-index.shtml
Pada ASD, otak tampaknya tidak dapat menyeimbangkan indra tepat. Beberapa anak ASD yang menyadari sangat dingin atau sakit. Anak ASD mungkin jatuh dan mematahkan lengan, namun tidak pernah menangis. Lain mungkin bash kepalanya ke dinding dan tidak meringis, tapi sentuhan ringan bisa membuat anak menjerit dengan alarm.
Mental retardasi ASD. Banyak anak-anak dengan memiliki beberapa derajat penurunan mental. Ketika diuji, beberapa daerah mungkin kemampuan normal, sedangkan yang lain dapat sangat lemah. Sebagai contoh, seorang anak dengan ASD dapat melakukannya dengan baik pada bagian-bagian dari tes yang mengukur keterampilan visual tetapi mendapatkan skor rendah pada subyek bahasa.
Kejang. Satu dari empat anak-anak dengan ASD mengembangkan kejang, sering mulai baik pada anak usia dini atau remaja,. 5 Kejang, disebabkan oleh aktivitas listrik abnormal dalam otak dapat menghasilkan kehilangan sementara kesadaran (penggelapan ""), sebuah kekejangan tubuh, gerakan yang tidak biasa, atau menatap mantra. Kadang-kadang faktor penyebabnya kurang tidur atau demam tinggi. Sebuah EEG (elektroensefalogram-rekaman dari arus listrik yang dikembangkan di otak melalui elektroda diterapkan pada kulit kepala) dapat membantu mengkonfirmasi adanya penyitaan itu.
Dalam kebanyakan kasus, serangan dapat dikendalikan oleh sejumlah obat-obatan yang disebut "anticonvulsants" Dosis obat. Yang disesuaikan dengan hati-hati sehingga seminimum mungkin obat akan digunakan untuk menjadi efektif.
Fragile X Syndrome. Gangguan ini adalah bentuk paling umum diwarisi dari keterbelakangan mental. Ini dinamakan demikian karena salah satu bagian dari kromosom X memiliki cacat yang muncul sepotong dicubit dan rapuh ketika berada di bawah mikroskop. Sindrom Fragile X mempengaruhi sekitar dua sampai lima persen dari orang dengan ASD. Sangat penting untuk memiliki anak dengan ASD diperiksa Fragile X, terutama jika orangtua mempertimbangkan memiliki anak lagi. Untuk alasan yang tidak diketahui, jika seorang anak dengan ASD juga memiliki Fragile X, ada satu-dalam-dua kesempatan bahwa anak laki-laki lahir ke orangtua sama akan memiliki sindrom tersebut. 6 lainnya anggota keluarga yang mungkin memikirkan memiliki anak mungkin juga ingin diperiksa untuk sindroma ini.
dibedakan dapat dilakukan antara seorang ayah dan kemampuan ibu untuk menyampaikan seorang anak perempuan atau anak gen pada kromosom X yang dihubungkan dengan sindrom X rapuh. Karena baik laki-laki (XY) dan perempuan (XX) memiliki minimal satu kromosom X, keduanya dapat lulus pada gen bermutasi untuk anak-anak mereka.
Seorang ayah dengan gen diubah untuk Fragile X pada kromosom X-nya hanya akan berlalu gen itu pada putrinya. Dia melewati satu kromosom Y ke putra-putranya, yang tidak mengirimkan kondisi. Oleh karena itu, jika ayah memiliki gen pada kromosom X, tapi ibu kromosom X normal, semua anak perempuan pasangan itu akan memiliki gen untuk Fragile X, sementara tak satu pun dari anak-anak mereka akan punya gen bermutasi. Karena ibu mewariskan kromosom X hanya untuk anak-anak mereka, jika ibu memiliki gen untuk Fragile X, dia bisa lewat gen yang baik untuk putra-putranya atau putrinya. Jika ibu memiliki gen bermutasi pada satu kromosom X dan memiliki satu kromosom X normal, dan ayah tidak mempunyai mutasi genetik, semua anak memiliki kesempatan untuk mewarisi gen bermutasi 50-50.
Peluang dicatat di sini berlaku untuk setiap anak orang tua telah 7 dalam hal prevalensi, statistik terbaru yang konsisten dalam menunjukkan bahwa 5% dari orang dengan autisme dipengaruhi oleh X rapuh dan 10% sampai 15% dari mereka dengan X rapuh menunjukkan ciri-ciri autistik .
Tuberous sclerosis. Tuberous sklerosis adalah gangguan genetik langka yang menyebabkan tumor jinak tumbuh di otak serta organ vital lainnya. Memiliki asosiasi yang kuat dengan konsisten ASD. Satu sampai 4 persen orang dengan ASD juga memiliki tuberous sclerosis. 8
SUMBER:http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.nimh.nih.gov/health/publications/autism/complete-index.shtml
Kemungkinan Indikator Gangguan Spektrum Autisme
Kemungkinan Indikator Gangguan Spektrum Autisme
• Apakah tidak mengoceh, titik, atau membuat gerakan yang bermakna dengan 1 tahun usia
• Tidak berbicara satu kata dengan 16 bulan
• Apakah tidak menggabungkan dua kata dengan 2 tahun
• Apakah tidak menanggapi nama
• Kehilangan bahasa atau keterampilan sosial
Beberapa Indikator Lainnya
• Miskin kontak mata
• Tampaknya tidak tahu cara bermain dengan mainan
• Baris terlalu mainan atau objek lainnya
• Apakah melekat pada satu mainan atau objek tertentu
• Apakah tidak tersenyum
• Pada saat tampaknya tuna rungu
Gejala Sosial
Dari awal, bayi biasanya berkembang adalah makhluk sosial. Di awal kehidupan, mereka menatap orang, putar ke arah suara, pegang jari, dan bahkan tersenyum.
Sebaliknya, kebanyakan anak dengan ASD tampaknya sangat kesulitan belajar untuk terlibat dalam memberi dan menerima interaksi manusia sehari-hari. Bahkan dalam beberapa bulan pertama kehidupan, banyak yang tidak berinteraksi dan mereka menghindari kontak mata. Mereka tampaknya tidak peduli terhadap orang lain, dan sering tampaknya lebih memilih sendirian. Mereka mungkin menolak perhatian atau pasif menerima pelukan dan berpelukan. Kemudian, mereka jarang mencari kenyamanan atau menanggapi menampilkan orangtua marah atau kasih sayang dengan cara yang khas. Penelitian telah menunjukkan bahwa meskipun anak-anak dengan ASD melekat kepada orang tua mereka, ekspresi mereka dari lampiran ini adalah biasa dan sulit untuk "membaca." Untuk orang tua, tampaknya seolah-olah anak-anak mereka tidak terikat sama sekali. Orang tua yang menantikan kegembiraan berpelukan, mengajar, dan bermain dengan anak mereka mungkin merasa hancur oleh kurangnya perilaku lampiran diharapkan dan khas.
Anak-anak dengan ASD juga lebih lambat dalam belajar untuk menafsirkan apa yang orang lain pikirkan dan rasakan. Halus sosial isyarat-apakah tersenyum, mengedipkan mata, atau-meringis mungkin memiliki makna sedikit. Untuk seorang anak yang merindukan isyarat ini, "Kemarilah" selalu berarti hal yang sama, apakah pembicara itu tersenyum dan mengulurkan tangan untuk memeluk atau mengerutkan kening dan penanaman tinjunya di pinggul. Tanpa kemampuan untuk menafsirkan gerak tubuh dan ekspresi wajah, dunia sosial mungkin tampak membingungkan. Untuk senyawa masalah, orang dengan ASD mengalami kesulitan melihat sesuatu dari perspektif orang lain. Kebanyakan 5-year-olds mengerti bahwa orang lain memiliki informasi yang berbeda, perasaan, dan tujuan dari yang mereka miliki. Seseorang dengan ASD mungkin kurangnya pemahaman tersebut. ketidakmampuan ini membuat mereka tidak dapat memprediksi atau memahami tindakan orang lain.
Meskipun tidak universal, biasanya untuk orang dengan ASD juga memiliki kesulitan mengatur emosi mereka. Ini dapat mengambil bentuk "perilaku belum menghasilkan" seperti menangis di kelas atau ledakan verbal yang tampaknya tidak pantas untuk orang-orang di sekitar mereka.Individu dengan ASD juga mungkin mengganggu dan agresif secara fisik pada waktu-waktu, membuat hubungan sosial masih lebih sulit. Mereka memiliki kecenderungan untuk "kehilangan kendali," terutama ketika mereka berada di lingkungan yang aneh atau luar biasa, atau ketika marah dan frustasi. Mereka mungkin pada waktu istirahat hal, menyerang orang lain, atau melukai diri sendiri. Dalam frustrasi mereka, bang beberapa kepala mereka, menarik rambut, atau menggigit lengan mereka.
SUMBER:http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.nimh.nih.gov/health/publications/autism/complete-index.shtml
• Apakah tidak mengoceh, titik, atau membuat gerakan yang bermakna dengan 1 tahun usia
• Tidak berbicara satu kata dengan 16 bulan
• Apakah tidak menggabungkan dua kata dengan 2 tahun
• Apakah tidak menanggapi nama
• Kehilangan bahasa atau keterampilan sosial
Beberapa Indikator Lainnya
• Miskin kontak mata
• Tampaknya tidak tahu cara bermain dengan mainan
• Baris terlalu mainan atau objek lainnya
• Apakah melekat pada satu mainan atau objek tertentu
• Apakah tidak tersenyum
• Pada saat tampaknya tuna rungu
Gejala Sosial
Dari awal, bayi biasanya berkembang adalah makhluk sosial. Di awal kehidupan, mereka menatap orang, putar ke arah suara, pegang jari, dan bahkan tersenyum.
Sebaliknya, kebanyakan anak dengan ASD tampaknya sangat kesulitan belajar untuk terlibat dalam memberi dan menerima interaksi manusia sehari-hari. Bahkan dalam beberapa bulan pertama kehidupan, banyak yang tidak berinteraksi dan mereka menghindari kontak mata. Mereka tampaknya tidak peduli terhadap orang lain, dan sering tampaknya lebih memilih sendirian. Mereka mungkin menolak perhatian atau pasif menerima pelukan dan berpelukan. Kemudian, mereka jarang mencari kenyamanan atau menanggapi menampilkan orangtua marah atau kasih sayang dengan cara yang khas. Penelitian telah menunjukkan bahwa meskipun anak-anak dengan ASD melekat kepada orang tua mereka, ekspresi mereka dari lampiran ini adalah biasa dan sulit untuk "membaca." Untuk orang tua, tampaknya seolah-olah anak-anak mereka tidak terikat sama sekali. Orang tua yang menantikan kegembiraan berpelukan, mengajar, dan bermain dengan anak mereka mungkin merasa hancur oleh kurangnya perilaku lampiran diharapkan dan khas.
Anak-anak dengan ASD juga lebih lambat dalam belajar untuk menafsirkan apa yang orang lain pikirkan dan rasakan. Halus sosial isyarat-apakah tersenyum, mengedipkan mata, atau-meringis mungkin memiliki makna sedikit. Untuk seorang anak yang merindukan isyarat ini, "Kemarilah" selalu berarti hal yang sama, apakah pembicara itu tersenyum dan mengulurkan tangan untuk memeluk atau mengerutkan kening dan penanaman tinjunya di pinggul. Tanpa kemampuan untuk menafsirkan gerak tubuh dan ekspresi wajah, dunia sosial mungkin tampak membingungkan. Untuk senyawa masalah, orang dengan ASD mengalami kesulitan melihat sesuatu dari perspektif orang lain. Kebanyakan 5-year-olds mengerti bahwa orang lain memiliki informasi yang berbeda, perasaan, dan tujuan dari yang mereka miliki. Seseorang dengan ASD mungkin kurangnya pemahaman tersebut. ketidakmampuan ini membuat mereka tidak dapat memprediksi atau memahami tindakan orang lain.
Meskipun tidak universal, biasanya untuk orang dengan ASD juga memiliki kesulitan mengatur emosi mereka. Ini dapat mengambil bentuk "perilaku belum menghasilkan" seperti menangis di kelas atau ledakan verbal yang tampaknya tidak pantas untuk orang-orang di sekitar mereka.Individu dengan ASD juga mungkin mengganggu dan agresif secara fisik pada waktu-waktu, membuat hubungan sosial masih lebih sulit. Mereka memiliki kecenderungan untuk "kehilangan kendali," terutama ketika mereka berada di lingkungan yang aneh atau luar biasa, atau ketika marah dan frustasi. Mereka mungkin pada waktu istirahat hal, menyerang orang lain, atau melukai diri sendiri. Dalam frustrasi mereka, bang beberapa kepala mereka, menarik rambut, atau menggigit lengan mereka.
SUMBER:http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.nimh.nih.gov/health/publications/autism/complete-index.shtml
Apakah Gangguan Autism Spectrum itu?
Spektrum gangguan autisme lebih sering terjadi pada populasi anak-anak dari beberapa gangguan lebih tahu seperti diabetes, spina tulang belakang, atau sindrom Down memiliki. 2 baru Sebuah studi dari US metropolitan area diperkirakan 3,4 setiap 1.000 anak 3-10 tahun autisme. 3sebelumnya kekacauan didiagnosis, semakin cepat anak dapat dibantu melalui intervensi pengobatan. Dokter anak, dokter keluarga, penyedia penitipan anak, guru, dan orangtua awalnya mungkin menolak tanda-tanda ASD, optimis berpikir anak sedikit lambat dan akan "mengejar."
Semua anak dengan ASD menunjukkan defisit 1) interaksi sosial, 2) komunikasi verbal dan nonverbal, dan 3) perilaku berulang atau kepentingan. Selain itu, mereka sering akan memiliki respons yang luar biasa untuk pengalaman indrawi, seperti suara-suara tertentu atau cara melihat objek. Masing-masing menjalankan gejala mulai dari ringan sampai parah. Mereka akan hadir di setiap individu anak berbeda. Misalnya, seorang anak mungkin sedikit kesulitan belajar membaca tetapi menunjukkan interaksi sosial yang sangat buruk. Setiap anak akan menampilkan komunikasi, sosial, dan pola perilaku yang individu tetapi sesuai dengan diagnosis ASD keseluruhan.
Anak-anak dengan ASD tidak mengikuti pola khas perkembangan anak. Pada beberapa anak, petunjuk tentang masalah yang akan datang dapat terlihat dari kelahiran. Dalam kebanyakan kasus, masalah dalam komunikasi dan keterampilan sosial menjadi lebih terlihat sebagai anak tertinggal jauh di belakang anak-anak lain pada usia yang sama. Beberapa anak lainnya memulai dengan cukup baik. Sering kali antara 12 dan 36 bulan, perbedaan dalam cara mereka bereaksi kepada orang-orang dan perilaku yang tidak biasa lainnya menjadi jelas. Beberapa orang tua laporan perubahan sebagai tiba-tiba, dan bahwa anak-anak mereka mulai menolak orang, bertingkah laku aneh, dan kehilangan bahasa dan keterampilan sosial mereka sebelumnya yang diperoleh. Dalam kasus lain, ada dataran tinggi, atau meratakan, kemajuan sehingga perbedaan antara anak autis dan anak-anak lain pada usia yang sama menjadi lebih terlihat.
ASD didefinisikan oleh seperangkat perilaku tertentu yang dapat berkisar dari sangat rendah hingga berat. Indikator mungkin berikut ASD diidentifikasi pada Pelatihan Kesehatan Umum Jaringan Webcast, autism Among Us '. 4
SUMBER:http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.nimh.nih.gov/health/publications/autism/complete-index.shtml
Semua anak dengan ASD menunjukkan defisit 1) interaksi sosial, 2) komunikasi verbal dan nonverbal, dan 3) perilaku berulang atau kepentingan. Selain itu, mereka sering akan memiliki respons yang luar biasa untuk pengalaman indrawi, seperti suara-suara tertentu atau cara melihat objek. Masing-masing menjalankan gejala mulai dari ringan sampai parah. Mereka akan hadir di setiap individu anak berbeda. Misalnya, seorang anak mungkin sedikit kesulitan belajar membaca tetapi menunjukkan interaksi sosial yang sangat buruk. Setiap anak akan menampilkan komunikasi, sosial, dan pola perilaku yang individu tetapi sesuai dengan diagnosis ASD keseluruhan.
Anak-anak dengan ASD tidak mengikuti pola khas perkembangan anak. Pada beberapa anak, petunjuk tentang masalah yang akan datang dapat terlihat dari kelahiran. Dalam kebanyakan kasus, masalah dalam komunikasi dan keterampilan sosial menjadi lebih terlihat sebagai anak tertinggal jauh di belakang anak-anak lain pada usia yang sama. Beberapa anak lainnya memulai dengan cukup baik. Sering kali antara 12 dan 36 bulan, perbedaan dalam cara mereka bereaksi kepada orang-orang dan perilaku yang tidak biasa lainnya menjadi jelas. Beberapa orang tua laporan perubahan sebagai tiba-tiba, dan bahwa anak-anak mereka mulai menolak orang, bertingkah laku aneh, dan kehilangan bahasa dan keterampilan sosial mereka sebelumnya yang diperoleh. Dalam kasus lain, ada dataran tinggi, atau meratakan, kemajuan sehingga perbedaan antara anak autis dan anak-anak lain pada usia yang sama menjadi lebih terlihat.
ASD didefinisikan oleh seperangkat perilaku tertentu yang dapat berkisar dari sangat rendah hingga berat. Indikator mungkin berikut ASD diidentifikasi pada Pelatihan Kesehatan Umum Jaringan Webcast, autism Among Us '. 4
SUMBER:http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.nimh.nih.gov/health/publications/autism/complete-index.shtml
Langganan:
Postingan (Atom)